Kekerasan Perempuan dan Anak Capai 459 Kasus, Pemprov Lampung Ajak Semua Pihak Bergerak

Bandar Lampung (Duta Damai)
Selama 2021 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Lampung mencapai 459 kasus, yang hal ini lebih tinggi dari pada kasus begal atau pencurian. Oleh karenanya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengajak semua pihak dapat bergerak untuk menghentikan kekerasan tersebut.

Wakil Gubernur Lampung, Chusnunia Chalim (Nunik) mengatakan, berdasarkan data kepolisian yang membuat miris dan ngilu adalah angka kekerasan perempuan dan anak tertinggi mengalahkan angka begal atau pencurian yakni diangka 355 kasus, sementara kekerasan anak dan perempuan 459 selama 2021.

“Artinya ini darurat kekerasan perempuan dan anak. Oleh karenanya, semua pihak mari kita ajak bersama untuk bergerak melakukan penyadaran segala apa yang bisa untuk menghentikan terhadap kekerasan itu,” ujarnya saat sambutan hari jadi ke-1 Rumah Perempuan dan Anak (RPA) di gedung Pusiban Pemprov Lampung, Kamis (30/12/2021).

Lanjutnya, pada 2020 juga begitu lebih tinggi, dimana begal 476 kasus sedangkan kekerasan perempuan dan anak mencapai 563 kasus.

“Meskipun kita juga sudah tahu dari tahun ke tahun ada kasus, tapi terutama adanya pandem ini justru meningkat grafiknya di dua tahun ini,” jelasnya.

Ia mengaku, walaupun Lampung telah mendapatkan penghargaan Kota Layak Anak (KLA) di beberapa kabupaten/kotanya beberapa waktu lalu.
“Akan tetapi saya kira bukan penghargaan KLA nya, namun yang paling esensi adalah perwujudan dari perlindungan perempuan dan anak. Pemerintah sesuai porsinya, tapi bisa sukses kalau seluruh lapisan masyarakat serta pihak lainnya bergerak bersama,” ungkap Nunik.

Oleh karena itu, semua pihak juga dapat mendorong agar DPR RI dan pemerintah pusat dapat segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS).

“Semoga dengan bersama seluruh yang peduli terhadap keselamatan perempuan dan anak, nantinya TPKS ini segera disahkan di pusat. Kita bukan hanya berdoa mohon maaf, karena hari ini enggak cukup hanya berdoa namun betul-betul bergerak bersama agar kita bisa menyelamatkan perempuan dan anak,” katanya.

Sementara, Ketua Bapemperda DPRD Lampung, Jauharoh Haddad menyampaikan, kasus mekerasan terhadap perempuan dan anak di Lampung cukup memprihatinkan, oleh karenanya pihaknya juga mendesak supaya DPR RI untuk menyatukan pendapat agar segera disahkan RUU TPKS ini.

“Kita semua perempuan di Lampung harus bersatu dalam rangka untuk kita menurunkan angka kekerasan tersebut. Tapi sebelumnya kita sudah punya juga Perda tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tutur Jauharoh.

“Setelah RUU TPKS ini disahkan, tentunya kita di Lampung harus menyambut juga dengan juga menginisiasi mengusulkan Perda yang serupa,” timpalnya.

Selain itu, Ketua PW RPA Lampung, Enny Puji Lestari mengatakan, untuk memerangi stop kekerasan perempuan dan anak, oleh karenanya bersama dengan teman-teman di RPA Lampung bersosialisasi turun langsung kepada masyarakat.

Menurutnya, nasib perempuan dan anak yang ada di masyarakat cukup luar biasa setiap hari hampir kekerasan itu sering terjadi. Dan baru-baru ini juga pendampingan dilakukan oleh sahabat-sahabat dari Pringsewu.

“Selama setahun bersinergi dengan Puspa juga bersinergi dengan pedagang pasar untuk membersamai para perempuan pekerja. Kami harap perempuan yang ada di luar sana baik itu pedagang, mahasiswa, anak-anak selalu bahagia dan mereka selalu riang gembira,” harapnya.

Oleh karenanya, kesempatan hari ini menjadi jembatan yang luar biasa untuk bersinergi bersama-sama untuk melakukan stop kekerasan perempuan dan anak.
“Karena jika kita lakukan sendiri kita tidak akan mampu, lantaran provinsi Lampung cukup luas dan cukup padat ketika kita akan melakukan sosialisasi maupun pendampingan terhadap kasus-kasus yang terjadi,” tandasnya.

Foto:Wakil Gubernur Lampung, Chusnunia Chalim (Nunik), saat sambutan hari jadi ke-1 Rumah Perempuan dan Anak (RPA) di gedung Pusiban Pemprov Lampung, Kamis (30/12/2021). (Sri)

Leave a Comment

Your email address will not be published.