Anggota MUI Ditangkap Densus 88, PWNU Lampung: Bukan Kriminalisasi Ulama Tapi Proses Penegakan Hukum

Bandar Lampung
Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Kepolisian Negara Republik Indonesia beberapa waktu lalu, telah gencar mengamankan terduga teroris mulai dari sipil, ASN dan yang mengejutkan adalah anggota pengurus organisasi keulamaan yakni MUI.

Dengan ditangkapnya terduga terorisme pada organisasi keulamaan tersebut, ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kriminalisasi ulama.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung, Prof. Karomani menilai, ditangkapnya seorang ulama oleh penegak hukum itu bukan berarti kriminalisasi ulama.

“Meskipun orang itu berkategori ulama, dosen, TNI dan Polri, PNs dan apaun, tapi kalau ada indikasi mengarah pada tindakan radikal terorisme maka dia patut dikatagorikan sebagai bagian dari jaringan itu. Jadi tidak ada yang namanya kriminalitas ulama, tapi itu semata-mata penegakan hukum,” kata Karomani, saat dimintai keterangan, Kamis (25/11/2021).

Lanjutnya, Ia meyakini bahwasanya polisi pasti memiliki data-data, tidak sembarangan mengamankan. Oleh karenanya, kata Dia, serahkan saja semua pada proses hukum dan diproses kepengadilan. Ketika nantinya tidak bersalah dipengadilan, maka akan dilepaskan.

“Karena ulama siapapun yang bertindak tidak sesuai undang-undang, ideologi yang kita anut dan kita sepakati bersama, saya kira patut melalui proses hukum. Jadi tidak ada yang namanya kriminalitas ulama,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan, saat ini banyak ulama yang tidak kenapa-kenapa, dan juga banyak ulama yang tidak ditangkapi.

“Kenapa ulama yang itu ditangkap?. Maka ini harus diselidiki kenapa ulama itu ditangkap, jadi saya tidak setuju dengan istilah kriminalisasi ulama. Tapi itu semata-mata penegakan hukum,” jelasnya lagi.

Rektor Universitas Lampung itu juga menyatakan, siapapun yang bersalah tetap di depan hukum sama.
“Apa ada ulama kebal, mentang-mentang ulama tidak bisa ditangkap. Jika ditangkap kriminalisasi ulama, nggak bener donk,” timpalnya.

“Rektor juga tangkap, saya kalau ada indikasi terkait dengan jaringan terorisme, maka tangkap saya. Artinya umat harus cerdas, jangan sampai terprovokasi dengan ucapan yang tidak baik,” tandasnya.

Senada disampaikan, Ketua Komisi l DPRD Provinsi Lampung, Yozi Rizal yang menilai, diamankannya anggota pengurus organisasi keulamaan yakni MUI oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror, bukan berarti itu merupakan kriminalisasi ulama.

Namun menurutnya, hal itu merupakan anggota penegak hukum tengah melakukan yang namanya penertiban dengan cara pengamanan, maka ini suatu langkah yang preventif oleh penegak hukum.

“Jangan sampai sudah terjadi baru dilakukan pengamanan. Karena prosesnya beda dengan yang namanya koruptor, karena dia harus terlihat dulu tindak pidananya baru bisa ditangkap,” kata Politikus Partai Demokrat itu.

Oleh karena itu jelasnya, semua harus melihat proses ini dengan pikiran yang jernih, jangan mudah mengatakan bahwa itu pengkriminalisasian, tapi yang jelas penangkapan itu pasti ada bukti permulaan yang cukup atas dugaan bahwa yang bersangkutan ini terlibat dengan tindakan terorisme.

“Terorisme ini tengah menjadi sorotan, karena bisa mengrong-rong yang namanya wibawa pemerintah. Lagian kita ini kan negara pancasila, jadi segala sesuatu bisa dimusyawarahkan,” ungkapnya.

Sementara untuk mencerdaskan umat terangnya, semua didalam ajaran agama itu diajarkan yang namanya untuk saling menyayangi sesama umat.

“Apa lagi kita satu paham, lagi yang berlainan paham saja kita harus saling menghormati. Maka umat jangan mudah terjebak oleh isu yang belum dapat dipercaya,” harapnya.

Saat ini juga banyak berkembang aliran-aliran. Dengan demikian aliran ini kata Yozi Rizal, harus berpijak pada yang namanya Al-quran kalau dia Islam, tapi jika Kristen maka Injil dan agama lainnya juga seperti itu.

“Maka ini diajarkan tidak ada yang namanya saling membenci dan saling memusnahkan, tapi semuanya mengajarkan kebaikan. Maka ini yang harus dipahami oleh masyarakat kita sebagai masyarakat yang beragama dan berpancasila, karena didalam falsafah kita itu juga menempatkan bahwa ketuhanan itu ada ditempat pertama,” ungkapnya.

“Artinya kita sangat menjunjung tinggi harkat martabat kita sebagai bangsa yang menghormati tentang satu sama lain didalam menganut kepercayaan,” tandasnya (Sri).

Foto: Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung, Prof. Karomani, saat dimintai keterangan, Kamis (25/11/2021). (Sri).

Leave a Comment

Your email address will not be published.